La Nyalla Mattalitti Di Mata Saya/foto :istimewa

La Nyalla Mattalitti Di Mata Saya

La Nyalla Matalitti Di Mata Saya

oleh M. Nigara, Wartawan Sepakbola Nasional Senior

KISAH tentang LNM, jauh sebelum saya mengenal dan kemudian bersahabat, sesungguhnya sudah banyak saya dengar. Maklum, meski saya tidak pernah menjadi anggota Pemuda Panca Sila, secara pribadi saya sangat dekat. Mas Yapto Soeryosoemarno, Ketua PP, Bang Todung Barita Lumban Raja, H. Santo, Bang Djajat, Abang-Ade adalah para senior yang secara pribadi sangat erat dengan saya. Malah Bang Amran YS, tokoh PP dari Sumut, sudah seperti abang saya sendiri.

Malah, pertengahan tahun 1980-an, Hasan (sapaan akrab Mas Santo) pernah secara khusus mengajak saya berbincang dengan Mas Yapto. Saya diminta untuk ikut masuk PP dan memperkuatnya lewat jalur media. Tetapi setelah saya memberi penjelasan bahwa kantor tempat saya bekerja (Kompas-Gramedia) pasti tak akan mengizinkan, baik mas Hasan maupun mas Yapto menerima penjelasan itu. Meski demikian hubungan kami tetap sangat kental.

Jadi, kisah tentang LNM juga sudah saya dengar cukup lama. Tetapi bertemu langsung dengan LNM, baru setelah beliau menjadi Ketua Umum PSSI versi KPSI. Tapi, itu pun hanya sebatas pimpinan dan anggota pengurus. Ya, di PSSI versi KPSI, saya kembali menjadi anggota Komisi Disiplin dengan Ketuanya Dr. Hinca Panjaitan. Saya berada di pos komdis sejak periode kedua kepemimpinan NH, sebelumnya, saya berada di Dewan Pakar bersama Bang Hariman Siregar.

Hubungan saya dengan LNM kala itu tidaklah semulus seperti hubungan dengan pimpinan-pimpinan PSSI lain. Kesan yang pertama dari saya, beliau menjaga jarak cukup jauh. Awalnya saya maklumi, karena LNM memang tak mengenal saya, tapi belakangan saya seperti merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam hubungan itu.

Puncaknya terjadi ketika saya difitnah oleh seseorang (tokoh lama) bahwa saya membekingi penyuap. Secara akal sehat dan secara struktural, sesuatu yang tidak masuk di akal sehat. Bagaimana mungkin, saya yang hanya anggota di komisi disiplin bisa memback-up seorang penyuap atau mata-rantai penyuapan, wong sejak menjadi anggota komdis hubungan saya dengan para narasumber dan teman-teman di klub-klub terputus, lha kok saya dituding membekingi?

Terus terang, sejak jadi anggota komdis itu, saya takut bertemu teman-teman klub. Apalagi jika satu atau dua di antara mereka sedang ada masalah. Padahal dulu, sejak era awal 1980-an, ya tentu saja sebelum wartawan olahraga membludak jumlahnya, setiap  saya ke daerah, jamuan teman-teman klub begitu luar biasa. Selain jumlah wartawan dan media masih sangat terbatas, media tempat saya bekerja memang bukan media kecil: Kompas dan Mingguan BOLA.

Malah, dulu, katanya, seseorang belum bisa disebut tokoh jika belum dikritisi oleh saya. Ini bukan saya yang mengucapkan, tetapi almarhum Mas Gareng (Soetjipto Soentoro, mantan bomber tim nasional 1960-70). “Kalo lu belon ‘diembat’ MN, lu belon jadi siape-siape di sepakbola nasional!” ujar Mas Gareng kepada banyak tokoh sepakbola.

Entahlah. Yang pasti bagi saya, meski hubungan saya dengan narasumber begitu dekat, tapi jika ada kekeliruan, saya tak segan mengkritisinya. Saya tak perduli akibat kritikan itu dia akan marah atau akan apapun. “Pokoknya, hubungan kita harus dekat dengan nara sumber, tapi kalau dia salah, jangan tolelir!” itu petuah yang saya dapatkan dari bos saya, guru, dan kakak saya, Valens Goa Doi, redaktur olahraga Kompas dan wartawan senior yang amat disegani karena tak pernah mau kompromi untuk kesalahan-kesalahan.

Meski saya menjalankan visi dan misi kerja yang keras, persahabatan kami begitu dekat dengan tokoh-tokoh dan para pemain. Ronny Pattinasarany, Basri, Sinyo Aliandoe, Risdianto, Ronny Paslah hingga pada angkatan Herry Kiswanto, Joko Malis, Wayan Diana, Ruddy Williem Kelces, dan terakhir angkatan Sudirman dan Rocky Putiray. Tokoh-toko seperti Alex Wenas (Niac Mitra), Elyas Hadadde (PSM Makassar), TD Pardede (Pardedetex), Benny Mulyono (Warna Agung), Benniardi (Tunas Inti), – bersambung

Baca Juga

Bek Persebaya Selamat Dari Benturan Maut

JAKARTA – Pemain belakang Persebaya, Andri Muladi terpaksa dilarikan kerumah sakit saat laga kontra Bhayangkara …

Pawai Obor Asian Games Diharapkan Mampu Angkat Wisata Daerah

JAKARTA – Pawai Obor Asian Games 2018 menjadi salah satu ajang sosialisasi pesta olahraga bangsa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *